Pendahuluan
Kota tempat tinggal kita terkadang sedikit membosankan dan seringkali justru kita tidak begitu mengenali kota kita sendiri. Sementara itu, saat kita mengunjungi kota lain kita malah merasa lebih asik dan enjoy. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? apakah ada faktor tertentu yang mempengaruhi perasaan kita, atau apakah ini hanya soal selera pribadi?
Jika kita melihat dari sudut pandang ilmu perencanaan wilayah dan kota, fenomena ini tidak hanya tentang selera pribadi, tetapi lebih tentang bagaimana perencanaan yang dihasilkan dan citra kota itu dibentuk. Nah, fenomena ini ternyata sudah lebih jauh diamati oleh pakar tata kota asal Amerika yaitu Kevin Lynch yang kemudian menjabarkan bahwa terdapat 5 elemen fisik pembentuk citra kota. Dan di artikel ini mari kita bahas dengan seksama.
A. Konsep Dasar
1. Peta Mental (mental maps)
Sebelum kita memahami teori Kevin Lynch, kita perlu tahu apa yang menjadi dasar pemikirannya. Ada 2 hal yang penting: peta mental dan keterbacaan.
Okeh, kita masuk pada konsep pertama, peta mental. Sadar gak si walaupun kita sering menggunakan kemajuan teknologi GPS seperti Google Maps, di banyak situasi kita justru lebih mengandalkan ingatan visual yang kita miliki dan menghubungkan antara objek yang pernah kita lihat, seperti "rumahku tuh arah masuk kampus akper, ada gang kecil di samping masjid warna ijo, terus aja masuk sampai ketemu pohon mangga pas disebelahnya rumahku sudah tuh". Ingatan-ingatan itu kemudian tersimpan dalam memori kita sebagai "peta mental", tentu hasil tiap orang berbeda-beda, tergantung persepsi dan pengalaman yang didapatkannya.
2. Keterbacaan (legibility)
Selain peta mental, acuan lain dari teori Kevin Lynch adalah aspek "keterbacaan". Analogi sederhananya seperti saat kita membaca buku yang banyak typo, paragrafnya amburadul, tanda bacanya juga ngawur, pasti kita pusing bacanya, langsung pengen skip. Begitu pula dengan kota, kalau jalannya gak jelas, gak ada penanda yang gampang diingat, ciri khas kotanya juga gak ada, pasti kita merasa gak enjoy dan nyaman, ujung-ujungnya kita jadi tersesat di kota tersebut. Sebaliknya, jika kota tersebut legible (mudah "dibaca"), kita akan lebih enjoy mengeksplor berbagai sudut kota itu.
2 konsep dasar diatas adalah landasan teori Kevin Lynch yang diungkapkannya dalam buku yang berjudul "The Image of the City".
B. 5 Elemen Citra Kota
Penjelasan lima elemen berikut merujuk pada artikel Book Review: The Image of the City di UDL Education (2022) dan 5 Elemen Kevin Lynch yang Membentuk Kota & Desain Perkotaan oleh Kaarwan Eduventures Private Limited. Elemen-elemen ini merupakan instrumen fisik yang membentuk citra suatu kota.
1. Paths (jalur): jalan untuk lalu lintas
Paths adalah jalur untuk lalu lintas, baik itu jalan raya, trotoar, dan jalur khsus transportasi umum. Di Kota Tarakan ada beberapa jenis jalur yang diatur dalam RTRW 2021-2041, antara lain:
- Jalan arteri primer: Jalan Yos Sudarso, Jalan Mulawarman.
- Jalan kolektor primer: Jalan Gajah Mada, Jalan Jenderal Sudirman.
- Jalan kolektor sekunder: Jalan P. Dipenogoro, Jalan Aki Babu.
- Jalan lokal primer: Jalan Slamet Riyadi, Jalan Seroja Karang Anyar.
- Jalan lokal sekunder: Jalan Kp. Bugis, Jalan Niaga
- Jalan Lingkungan Primer: Jalan Simpang Tiga Intraca, Jalan Danau Semayang.
- Trotoar: Trotoar di Jalan Jenderal Sudirman, Trotoar Jalan Gajah Mada.
- Gang: Gang Tambak di Jalan Mulawarman, Gang Sirsak di belakang BAZNAS.
2. Edges (tepi): pembatas ruang kota
Edges yang selanjutnya disebut pembatas ruang kota yang berfungsi batas atau penghalang suatu kawasan. Di Kota Tarakan dan Kabupaten Bulungan pembatas ruang kota ini terdiri dari berbagai jenis, antara lain:
- Kota Tarakan: Garis pantai amal yang membatasi antara ruang daratan dengan laut (membatasi area wisata dengan laut Sulawesi). Kawasan Konservasi Mangrove Dan Bekantan (KKMB) yang membatasi antara kawasan konservasi dan kawasan permukiman (memisahkan padatnya aktivitas perdagangan di Jalan Gajah Mada dengan hutan bakau yang dilindungi). 2 contoh ini adalah kategori tepi alami. Adapun contoh edges buatan yaitu pagar pembatas Bandara Juwata dengan Kawasan Permukiman (memisahkan zona transportasi udara dengan perumahan di Jalan Aki Balak).
- Kabupaten Bulungan: Tepian Sungai Kayan (warga setempat menyebutnya siring), siring menjadi pembatas alami yang memisahkan Kecamatan Tanjung Selor dengan Tanjung Palas; Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIPI) di Tanah Kuning yang juga membatasi antara kawasan industri Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan kawasan permukiman penduduk pesisir.
3. Districts (Kawasan): karakteristik kota
Districts yang selanjutnya disebut kawasan adalah suatu kawasan dengan karakteristik atau suasana yang khas. Di Indonesia sendiri ada beberapa contoh districts yang populer diantaranya yaitu:
- Kotu atau Kota Tua, Jakarta.
- Malioboro, Yogyakarta.
- Kawasan SCBD, Jakarta.
- Chinatown/Pecinan, Surabaya. Di Jakarta juga ada yaitu di Glodok.
- Braga, Bandung.
4. Nodes (titik temu): titik pusat kegiatan kota
Nodes yaitu pusat aktivitas warga yang berfungsi sebagai tempat bertemu dan konsentrasi kegiatan masyarakat, seperti alun-alun, taman, atau pusat perbelanjaan. Di Provinsi Kalimantan Utara sendiri ada beberapa contoh nodes yaitu sebagai berikut:
- Kota Tarakan: simpang tiga Grand Tarakan Mal (GTM), Taman Berlabuh, Taman Berkampung, Taman Oval Ladang, Taman Oval Markoni, area 99 Bandara Juwata, Baloy Adat Tidung, Kawasan Ratu Intan Pantai Amal.
- Kabupaten Tana Tidung: RTH H. Joesoef Abdulah Tideng Pale, Bundaran Haji Undunsyah (HU), Balai Adat Desa Mendupo.
- Kabupaten Nunukan: Alun-alun Nunukan.
- Kabupaten Malinau: Panggung Budaya Padan Liu Burung, Balai Adat Tidung Malinau.
- Kabupaten Bulungan: Tepian Sungai Kayan, Kebun Raya Bundayati, Alun-Alun Panca Agung.
5. Landmarks (tengara): ikon kota
Landmarks yang lebih dikenal sebagai ikon kota dapat berupa tugu, monumen, patung, bangunan ibadah dan gedung yang memiliki peranan penting. Ikon suatu kota biasanya dibangun atas dasar filosofis sejarah maupun budaya, potensi daerah yang dimiliki, arah cita-cita pembangunan kedepan. Berikut ini beberapa contoh ikon kota yang cukup populer di Kota Tarakan yaitu:
- Masjid Baitul Izzah (Islamic Center). Masjid Baitul Izzah menjadi salah satu ikon populer Kota Tarakan. Ciri khasnya terletak pada kubah besar yang mudah terlihat, baik dari udara maupun dari kejauhan. Saat pesawat hendak mendarat, kubah ini sering menjadi penanda bahwa kita sudah hampir sampai di Tarakan. Begitu pula saat menuju ke sana, keberadaan kubah membantu memastikan bahwa lokasi tujuan sudah dekat.
- Monumen Minapolitan. Monumen Minapolitan dibangun pada akhir masa jabatan Wali Kota Ir. Sofian Raga, M.Si., Monumen ini dibuat sebagai bentuk kepedulian terhadap potensi kelautan dan perikanan Tarakan, khususnya udang, kepiting, dan ikan bandeng yang sudah dikenal hingga ke luar negeri. Sofian berharap warga menjaga monumen ini karena menjadi identitas dan kenangan kota, tidak hanya bagi warga setempat tetapi juga bagi wisatawan luar. Konsepnya mirip Monumen Sura dan Baya di Surabaya yang menjadi ikon kota. Tujuannya agar monumen ini bisa menjadi daya tarik wisata sekaligus sarana promosi daerah sebagai penghasil perikanan unggulan dunia.
Kesimpulan dan Contoh Kasus
Bayangkan jika kamu sekarang berada di pusat kota Tarakan, tepatnya di Simpang Tiga Grand Tarakan Mal (GTM) dan Taman Hiburan Masyarakat (THM). Sebagai sebuah nodes atau titik kota, area ini bukan sekadar persimpangan jalan, melainkan menjadi pusat orientasi yang mengatur titik temu aktivitas kota. Di sini, bangunan tinggi GTM berdiri tegak sebagai landmark yang ikonik, sebuah ikon visual yang memberitahu setiap pengunjung bahwa mereka telah sampai di pusat keramaian ekonomi. Dari titik strategis ini, peta mental kita terbentuk melalui jalur-jalur paths yang memiliki karakter unik dan saling terintegrasi satu sama lain. Jika kamu belok ke arah Jalan Gajah Mada, kamu akan memasuki districts ekonomi rakyat yang ramai karena aktivitas perdagangan pasar gusher, hingga akhirnya pandanganmu tertuju pada edges alami yaitu Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) yang menjadi pembatas hiruk-pikuk perdagangan dengan hijaunya hutan bakau yang dilindungi.
Tapi kalau kamu memilih untuk lurus melintasi Jalan Mulawarman, maka kamu akan lebih merasakan suasana kawasan komersial modern, mulai dari deretan perhotelan seperti hotel Swiss Bell, hingga gerai populer diantaranya Mie Gacoan, Gramedia, AZKO, Richeese Factory, Dojo Nanyang Kopi House, hingga akhirnya terhubung ke Bandara Juwata.
Sedangkan di bagian timur, tepatnya di Jalan Yos Sudarso, kamu akan lebih banyak menjumpai kawasan perbankan, mulai dari Bank BNI, Mandiri KCP Simpang Tiga, BPD KALTIMTARA, Bank Sinarmas, Bank BSI KC, BCA KCU, jalan ini bermuara di dua pelabuhan utama kota, yaitu Pelabuhan Speed Tengkayu dan Pelabuhan Kapal Malundung. Pelabuhan Tengkayu jadi penghubung utama Tarakan ke kabupaten lain di Kaltara seperti KTT dan Bulungan. Sementara Pelabuhan Malundung melayani rute antarpulau ke Makassar, Parepare, dan kota lainnya.
Berbeda lagi jika kamu berbelok menuju Jalan Jenderal Sudirman. Di sana, karakter kawasannya bergeser menjadi pusat administrasi dan permukiman yang ramai penduduk, ditandai dengan adanya trotoar yang lebar.
Dari pengamatan ini terlihat kalau kota tersusun dari 5 elemen fisik yaitu Paths, Edges, Districts, Nodes, dan Landmarks. Kelima elemen ini harus ditata secara harmonis dan saling terpadu. biar kota terasa nyaman dan mudah dibaca.
Penutup
Itulah pembahasan lengkap teori 5 elemen fisik pembentuk citra kota oleh Kevin Lynch. Sebagai warga kota khususnya mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, memahami teori ini bisa membantu kita mengenali dan menghargai kota kita sendiri dengan lebih baik, serta berkontribusi pada pembangunan identitas dan karakter daerah kita, sekarang giliran kamu untuk mengamati 5 elemen fisik di kotamu dan berbagi pengalaman dan hasil pengamatan di kolom komentar!
Referensi